Showing posts with label IDEK what i'm writing. Show all posts
Showing posts with label IDEK what i'm writing. Show all posts

Feb 1, 2014

Karena Aku Perempuan




Karena aku perempuan,
Aku perasa. Aku berpikir jauh dan panjang.
Aku cemas, cemburu, bahkan pada pikiranku sendiri.
Dan kamu dihadapkan dengan drama.

Karena aku perempuan,
Aku kena PMS. Aku overthinking dan (sering kau bilang) ovary-acting.
Aku takut kehilangan. Khawatir dengan hal-hal yang kau anggap tidak penting.
Dan kamu dihadapkan dengan drama.

Karena aku perempuan,
Hatiku bereaksi lebih cepat dari otak.
Perasaanku lebih gesit ketimbang logika.
Dan kamu dihadapkan dengan drama.

Karena aku perempuan,
Aku ingin dimanja dan disayang.
Ditelepon tanpa alasan.
Digandeng saat berjalan.
Dan segala tetek-bengek yang kau anggap merepotkan.

Tapi, kamu jangan kapok ya.
Jangan kesal atau marah terlalu lama.
Jangan biarkan rasaku--
marah, takut, kesal, sakit.
--bertumpuk dan menjadi dinding diantara kita.

Ingatkan aku akan keegoisanku.
Ingatkan aku khawatirku tak beralasan.
Ingatkan aku untuk mendukungmu dan menyayangimu.
Ingatkan aku bahwa kamu menyayangi aku.

Karena aku perempuan
Yang sedang jatuh cinta.



Tangerang, 1 Februari 2014
1:28 AM.
...dan untuk kamu.
 

Sep 10, 2013

Suatu renungan di tengah malam.

Manusia itu sering di-troll sama perasaannya. Pada satu waktu, kau dibuat berpikir kau sangat menginginkan sesuatu tanpa tahu kenapa. Lalu kau mulai berusaha. Terus, terus mencoba
Berharap mendapatkannya meski kau harus menghianati prinsip dan hal-hal yang selama ini kau yakini.

Dan disaat kau bisa menggenggamnya, perlahan ia berubah. Bukan hanya perasaanmu, tetapi juga 'sesuatu' di dalam genggamanmu itu.

Lalu kau akan mulai bertanya. Kenapa dulu aku sangat menginginkannya? Apa yang kuharapkan darinya? Apa yang bisa kuharapkan darinya?

Is this really what I wanted?

Kau tak bisa menemukan jawaban. Yang kau tahu, kau enggan melepaskan genggamanmu--takut kehilangan hal penting yang sesungguhnya sudah berubah.

Tapi kau masih merindukannya.




Jakarta, 10 September 2013
Dalam kamar yang dibiarkan berantakan.


Jul 26, 2013

Langkah

Dua orang yang berjalan bersama,
Tak selalu berada di 'tempat yang sama'.

Yang satu berjalan dengan alasan,
Dengan tujuan dan harapan yang jelas.

Yang lain berjalan tanpa tahu akan kemana,
Terdorong keinginan untuk bersama,
Setidaknya untuk sekarang saja.

Ketika yang satu menyatakan kemana tujuan mereka,
Yang lain terdiam, bimbang karena belum terbayang.

Tetapi tak mengapa.
Mereka tetap berjalan bersama.
Di tengah keraguan,
Kebimbangan,
Perbedaan.

Karena satu alasan;
Ingin terus bersama.
Itu saja.



Jakarta, 26 Juli 2013


Source: from here

Jul 3, 2013

Tik. Tik. Tik.

Tadi, sepulang kerja, aku berbaring di tempat tidur. Merebahkan tubuh untuk melepas lelah sebelum mandi. 10 menit lagi, pikirku.

Tik. Tik. Tik

Sepuluh menit pertama melayang, memasuki sepuluh menit berikutnya. Aku masih diam memandangi jam dinding, yang jarum detiknya terus berjalan.

"Waktu terus berjalan, lho."

"Thank you, captain obvious," balasku padamu, sarkastis, tiap kali kau menegurku karena tidak bisa menghargai waktu.

Bukan, bukan tidak menghargai. Mungkin lebih tepatnya, tidak menyadari.

Tik. Tik. Tik.

Waktu terus berdetik. Aku masih menatap kosong ke arah jam dinding di kamarku. Sepuluh menit lagi sudah berlalu, kemudian lima belas... dua puluh...

Waktu terus berjalan, berlari, sementara aku masih tak bergerak. Pikiranku terjebak pada memori yang sudah berlalu. Tidak bisa kembali. Tidak bisa diulang.

Waktu yang hilang.

Aku selalu berpikir kita punya banyak waktu. Bukankah kita masih muda? Duapuluhan awal. Jika kisah manusia adalah sebuah buku, barangkali usia duapuluhan itu masih ada di bab awal. Belum klimaks.

Tapi, waktu memang tidak menunggu siapapun. Dan saat waktu itu pergi... maka dia hilang selamanya.

Seperti waktumu yang sudah diambil oleh Yang Maha Kuasa.

Lihat aku sekarang. Waktuku terus berjalan, tapi yang kurasakan hanya penyesalan yang kini bertransformasi menjadi kehampaan.

Hei, saat waktu kita masih ada, pernahkah kau menyadari bahwa aku memendam rasa?


Tik. Tik. Tik.

Sekarang, bahkan waktu pun tidak akan bisa menjawab.

Dan ia terus berjalan.




Jakarta, 3 July 2013
22:15
*image disclaimed. got from google*