Showing posts with label writing: others. Show all posts
Showing posts with label writing: others. Show all posts

Sep 14, 2014

Sosok Di Atas Mobil

Melihat judulnya secara sekilas, mungkin yang terbesit di pikiranmu adalah cerita tentang 'penumpang gelap' yang tiba-tiba muncul di kursi belakang sebuah mobil, dan terlihat lewat kaca spion.

Bukan, ini bukan cerita seperti itu.
Yah, mungkin agak mirip, sih.

Malam itu, aku dan Manajerku di kantor sedang dalam perjalanan pulang. Bekerja di kantor konsultan Public Relations, lembur hingga larut malam menjadi hal yang wajar. Waktu sudah menujukkan sekitar pukul 10.30 malam ketika mobil yang dikemudikan oleh manajerku melintasi kawasan Pancoran menuju ke arah Pasar Minggu. Manajerku berbaik hati memberikan tumpangan padaku yang berencana menginap di rumah salah seorang teman yang kebetulan searah dengan rumahnya.

Jam segini, jalanan sudah lumayan lengang, meski masih banyak kendaraan berlalu-lalang. Aku duduk di kursi penumpang, memandang ke depan dengan mata setengah tertutup, menahan kantuk. Makanya, ketika aku pertama melihat sosok itu, aku nggak ngeh.

Di depan mobil yang kami tumpangi adalah sebuah mobil pickup berwarna hitam. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari mobil itu. Baknya terlihat kosong karena tidak sedang mengangkut barang.

Tapi, di atas mobil itu, ada benda putih menyerupai sosok yang sedang duduk di atapnya.

Sosok yang seluruhnya terbungkus kain putih usang. Termasuk kepalanya.

Aku mengucek mataku, mengerjap beberapa kali. Sosok itu tidak kaku, namun bergoyang siering dengan pergerakan mobil. Kadang miring sedikit ke kiri, lalu ke kanan...

"Tan...?" panggil manajerku pelan.

Aku menelan ludah. "Iya mbak," sahutku tanpa perlu menyebut bahwa, iya, kami melihat hal yang sama.

"Itu props bukan ya?" Manajerku memelankan laju mobilnya, antara penasaran dan tidak ingin jarak kami dengan mobil pickup itu mengecil.

"Kalau props, seharusnya ditaruh di bak dong, bukan di atap. Lagian kayaknya nggak diiket tuh, kok nggak jatuh?"

"Iya sih..."

Mobil pickup di depan mempercepat lajunya. Sosok putih itu masih duduk manis di atas atapnya, menghadap ke depan. Tubuhnya sesekali berguncang pelan.

"Mbak, salip aja kali ya?" usulku, antara takut ingin segera menjauh, dan penasaran ingin memastikan apakah sosok putih itu benar-benar...

Pocong?

Manajerku melirikku sekilas. Kami berpandangan selama dua detik, kemudian ia menginjak pedal gas dengan lebih dalam, mengarahkan setir ke kanan untuk menyalip pickup tersebut.

Ujung belakang mobil pickup itu kini berada di depanku. Tanpa dikomando aku mendongak, mataku mengejar sosok putih yang terduduk di atas atap.

Semakin dekat... dan... dari tempatku duduk, aku--untungnya--hanya sempat melihat separuh badan sosok itu, tidak sampai ke kepala.

Mobil kami kini melaju di depan mobil pickup itu. Aku menengok ke belakang, lalu bergidik ngeri.

"Mbak... ilang tuh. Udah nggak ada," laporku sambil pelan-pelan mengalihkan pandanganku dari arah belakang ke samping kanan. Di belakang kemudi, wajah Manajerku terlihat pucat. Ia tidak berbicara sepatah katapun, hanya menatap lurus ke depan dan berusaha keras untuk tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Aku mengusap lenganku sendiri, merasakan dinginnya AC yang seperti menusuk tulang.

Ketika aku melihat ke depan, nafasku tercekat.

Di situ, dari kaca depan kami, terlihat sosok terbungkus kain putih kusam yang menjuntai dari atas--seperti sepasang kaki yang dibungkus.

Kami tidak berbicara lagi. Dalam hati, aku melantunkan Ayat Kursi.

Mobil terus melaju, kemudian berbelok. Sosok putih itu menghilang dari kaca depan kami.

Aku menghembuskan napas panjang, dan menengok ke arah Manajerku yang memusatkan pandangannya ke depan.

Tanpa diucapkan pun, aku mengerti.

Jangan mengintip ke kaca spion.

Karena kami sama-sama tidak mau tahu jika sosok itu memilih untuk berpindah ke dalam mobil.

* * *



Saya tantang AndherlyanRW http://www.andherlyanrw.com/ untuk membuat foto yang lebih menakutkan dari ini.

May 7, 2014

Suara Dalam Keheningan

Apa kamu menyadari? Saat kamu sendirian di suatu ruangan, terutama ketika malam hari dimana hingar-bingar kehidupan tak lagi terdengar, kamu bisa mendengar macam-macam suara.
sumber: google

Baru-baru ini, rumah kost tempatku tinggal di daerah Tebet kedatangan banyak anak baru. Ada lima gadis lulusan SMA yang sedang mengikuti kursus intesif selama sebulan di beberapa BTA yang bertebaran di kawasan ini. Kehadiran mereka membuat tidurku di malam hari jadi lebih tenang.

Hampir setahun ini, rumah kos yang memiliki delapan kamar tidur hanya dihuni aku saja. Kamar-kamar kos terletak di lantai dua rumah induk semangnya, dimana dia tinggal di lantai satu. Meski aku tahu ibu kos dan anak lelakinya tinggal di bawah, tetap saja ketika kau satu-satunya penghuni lantai dua dengan tujuh kamar kosong lainnya, kau akan merasa sendirian, kan?

Biasanya ketika pikiran sedang 'sehat', aku tidak merasa sendirian di malam hari itu masalah. Tapi, kadang-kadang ada kalanya aku paranoid. Aku memang bukan tipe yang tidur cepat, biasanya aku baru akan tidur jam 11 malam ke atas. Kalau sudah mendekati tengah malam itulah, ketika suara aktivitas manusia di luaran juga sudah mulai terhenti, aku akan mendengar macam-macam suara.

Bukan suara yang berisik, ya. Sekedar suara gesekan benda berat, atau terkadang suara ketukan entah benda apa. Kadang suaranya seperti orang memukul paku dengan palu. Kadang seperti ada yang mengetuk langit-langit. Aku tidak tahu dari mana suara-suara itu berasal (mungkin memang ada tetangga yang sedang memasang paku?) dan aku tidak terlalu ingin tahu.

Kalau mau dipikir dengan logika, suara-suara itu mungkin bunyi 'house settling' (aku tidak bisa menemukan terjemahan yang pas. Intinya, sih, bunyi peralatan rumah tangga yang menggema di malam hari dan tertangkap telinga karena suasana yang sunyi di malam hari). Tapi di malam-malam aku merasa paranoid, bunyi-bunyian itu membuatku terkaget-kaget.

Jadi, sering juga aku tidur dengan semua lampu menyala.

Sekarang mungkin bunyi-bunyian itu masih ada. Tetapi karena aku tahu ada banyak orang di sekitarku, aku tidak terlalu mendengar bunyi-bunyi itu. Telingaku tidak seperhatian itu dengan mereka.

Bagaimana dengan kamu? Pernahkah kamu mendengar suara-suara dalam keheningan?










Jakarta, 07 Mei 2014 
Jam 23:23

Sep 10, 2013

Suatu renungan di tengah malam.

Manusia itu sering di-troll sama perasaannya. Pada satu waktu, kau dibuat berpikir kau sangat menginginkan sesuatu tanpa tahu kenapa. Lalu kau mulai berusaha. Terus, terus mencoba
Berharap mendapatkannya meski kau harus menghianati prinsip dan hal-hal yang selama ini kau yakini.

Dan disaat kau bisa menggenggamnya, perlahan ia berubah. Bukan hanya perasaanmu, tetapi juga 'sesuatu' di dalam genggamanmu itu.

Lalu kau akan mulai bertanya. Kenapa dulu aku sangat menginginkannya? Apa yang kuharapkan darinya? Apa yang bisa kuharapkan darinya?

Is this really what I wanted?

Kau tak bisa menemukan jawaban. Yang kau tahu, kau enggan melepaskan genggamanmu--takut kehilangan hal penting yang sesungguhnya sudah berubah.

Tapi kau masih merindukannya.




Jakarta, 10 September 2013
Dalam kamar yang dibiarkan berantakan.


Jan 31, 2012

#LarukuJKT ticket war

Yep, seperti yang kalian semua mungkin udah tau, band rock ternama asal Jepang, L'arc~en~Ciel, bakalan manggung di Jakarta. Gosipnya baru beredar minggu lalu, dan di akhir minggu tersebut, tepatnya tanggal 28 Januari 2012, langsung tiketnya dijual di RajaKarcis.

Sejak pengumuman resmi bahwa Laruku mau konser di Indo aja twitter udah rame banget ngomonginnya. Saya pun mulai panik gimana caranya beli tiket, karena dilihat dari animo masyarakat (cieh) yang begitu tinggi, saya gak berani bayangin kudu ngantre. Inget konser Katy Perry belum lama ini? Saya sempet liat di berita, yang ngatri karcis sampai nginep di mall. Nyerah deh kayaknya kalo sampe begitu.

Anyway, akhirnya karena kebaikan seorang teman, saya bisa nitip booking tiket di rajakarcis. Itupun melalui perjuangan rebutan kuota harian. Penjualan pertama dibuka hari Sabtu (28/1) biak secara online melalui web Raja Karcis dan secara offline di kantor Raja Karcis di darah Manggarai. Sejak pagi buta aja twitter box Raja Karcis udah penuh dengan peminat tiket yang menggalau berjamaah. Antrian di depan kantor Raja Karcis dari jam 7 pagi juga sudah panjang.


Jan 29, 2012

DPR, Wibawamu Kini

Tulisan opini iseng yang saya tulis buat latihan ternyata masuk halaman depan XD


Isi tulisannya seperti ini:

DPR, Wibawamu Kini


KabarIndonesia - DPR itu seperti Taman Kanak-Kanak. Kira-kira begitulah yang pernah dikatakan oleh almarhum Gus Dur. Melihat keadaan DPR sekarang, mungkin predikat DPR bisa bertambah menjadi “Dewan Pelawak Rakyat”, tentu saja setelah sebelumnya menyandang nama “Dewan Perkebunan Rakyat” dan “Dewan Perikanan Rakyat”.

Pejabat rakyat seharusnya disegani, namun kini acara TV dan artikel koran penuh dengan parodi dan cemooh terhadap para anggota dewan yang (konon kabarnya) terhormat ini. Dari awal tahun ini saja, DPR sudah membuat heboh dengan ‘kelakar’ perikanannya. Menyamakan ‘teman’ dengan berbagai macam ikan, persis seperti anak kecil.

Kelakuan mereka pun tak berbeda dengan bocah ingusan. Berani berbuat tak berani bertanggung jawab. Saling teriak dan saling tuding, itu yang sedang terjadi saat ini. Setelah anggaran fantastis untuk renovasi ruang rapat Banggar diketahui public, baik anggota Dewan maupun anggota Banggar beramai-ramai menuding Sekjen DPR, Nining Indra Saleh, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pemborosan uang rakyat sebesar Rp 20 miliar.