Showing posts with label semacam curhat. Show all posts
Showing posts with label semacam curhat. Show all posts

May 13, 2014

(Yang Katanya) Mimpi Setiap Wanita

Katanya, setiap wanita pasti bermimpi untuk menikah. Walaupun aku tahu belum tentu juga, karena aku kenal beberapa teman wanita yang tidak ingin menikah atau bahkan menganggap perikahan hanyalah semacam tuntutan sosial yang merepotkan.

Buat aku pribadi sih, mungkin ketimbang mimpi, pernikahan bagiku itu adalah suatu fase kehidupan yang sudah sewajarnya akan dilalui. Sampai usiaku yang sudah mencapai pertengahan duapuluhan pun, aku tidak pernah benar-benar memikirkan soal itu. Di saat teman-teman kantor yang sepantaran mulai membicarakan konsep pernikahan yang mereka inginkan, aku bahkan tidak pernah membayangkan pesta perikahan impianku.

Saat ini, salah seorang teman dekat sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Kesamaan hobi membawa kami bertemu di dunia maya. Dia adalah satu dari sedikit orang yang akan kuladeni untuk diskusi megenai hal-hal absurd di tengah malam, bahkan sampai pagi menjelang. Orang yang menemaniku begadang hampir setiap hari di suatu Desember 2011 untuk menyelesaikan proyek fanfiction. Dan sekarang, orang itu akan menikah.

Di usiaku sekarang, sebenarnya wajar saja dikelilingi oleh teman-teman yang akan dan sudah menikah. Tapi memang aku tidak pernah memperhatikan seperti apa mereka mempersiapkan pernikahannya. Baru sekarang aku ngeh betapa ribetnya mempersiapkan pernikahan, mulai dari menentukan tema atau konsep, pemilihan venue, kostum, dan banyak printilan lainnya. Pantas saja banyak yang terkena marriage blue dan stres sebelum pernikahan.

Rasa ingin tahu membawaku menjelajah dunia maya untuk melihat seperti apa sih, konsep pernikahan yang menarik? Dan dari situlah, di usia 26, baru aku terpikirkan jika aku menikah nanti, seperti apa resepsi yang aku inginkan.

Pacarku saat ini orangnya introvert dan pendiam. Dia dari awal bilang, kalau nanti kami menikah, dia tidak mau pesta besar dengan banyak undangan. Cukup keluarga dan teman-teman terdekat saja. Nah, bayanganku akan resepsi pernikahan yang aku inginkan sekarang ini cocok dengan keinginan pacarku itu. Aku sendiri tidak ingin pesta besar-besaran.

Tema yang kuinginkan mungkin lebih kepada sesuatu yang sederhana dengan banyak dekorasi handmade. Kalau melihat DIY Wedding ideas di internet, sepertinya tema ini akan menarik sekali untuk diterapkan, dan biayanya juga bisa lebih murah.Kenapa aku ingin tema DIY? Karena aku ingin sentuhan yang personal dan berkarakter. Yang sederhana tapi memorable.

Ah, buat apa juga aku membicarakan soal tema pernikahan sekarang ya? Toh aku belum ada rencana menikah dalam waktu dekat, hahaha...

But, well, a girl can dream ;)



*foto-foto dari pernikahan Ratna Ariyanti & Heru Lesmana Syafei yang diadakan 14 Februari lalu.

May 7, 2014

Suara Dalam Keheningan

Apa kamu menyadari? Saat kamu sendirian di suatu ruangan, terutama ketika malam hari dimana hingar-bingar kehidupan tak lagi terdengar, kamu bisa mendengar macam-macam suara.
sumber: google

Baru-baru ini, rumah kost tempatku tinggal di daerah Tebet kedatangan banyak anak baru. Ada lima gadis lulusan SMA yang sedang mengikuti kursus intesif selama sebulan di beberapa BTA yang bertebaran di kawasan ini. Kehadiran mereka membuat tidurku di malam hari jadi lebih tenang.

Hampir setahun ini, rumah kos yang memiliki delapan kamar tidur hanya dihuni aku saja. Kamar-kamar kos terletak di lantai dua rumah induk semangnya, dimana dia tinggal di lantai satu. Meski aku tahu ibu kos dan anak lelakinya tinggal di bawah, tetap saja ketika kau satu-satunya penghuni lantai dua dengan tujuh kamar kosong lainnya, kau akan merasa sendirian, kan?

Biasanya ketika pikiran sedang 'sehat', aku tidak merasa sendirian di malam hari itu masalah. Tapi, kadang-kadang ada kalanya aku paranoid. Aku memang bukan tipe yang tidur cepat, biasanya aku baru akan tidur jam 11 malam ke atas. Kalau sudah mendekati tengah malam itulah, ketika suara aktivitas manusia di luaran juga sudah mulai terhenti, aku akan mendengar macam-macam suara.

Bukan suara yang berisik, ya. Sekedar suara gesekan benda berat, atau terkadang suara ketukan entah benda apa. Kadang suaranya seperti orang memukul paku dengan palu. Kadang seperti ada yang mengetuk langit-langit. Aku tidak tahu dari mana suara-suara itu berasal (mungkin memang ada tetangga yang sedang memasang paku?) dan aku tidak terlalu ingin tahu.

Kalau mau dipikir dengan logika, suara-suara itu mungkin bunyi 'house settling' (aku tidak bisa menemukan terjemahan yang pas. Intinya, sih, bunyi peralatan rumah tangga yang menggema di malam hari dan tertangkap telinga karena suasana yang sunyi di malam hari). Tapi di malam-malam aku merasa paranoid, bunyi-bunyian itu membuatku terkaget-kaget.

Jadi, sering juga aku tidur dengan semua lampu menyala.

Sekarang mungkin bunyi-bunyian itu masih ada. Tetapi karena aku tahu ada banyak orang di sekitarku, aku tidak terlalu mendengar bunyi-bunyi itu. Telingaku tidak seperhatian itu dengan mereka.

Bagaimana dengan kamu? Pernahkah kamu mendengar suara-suara dalam keheningan?










Jakarta, 07 Mei 2014 
Jam 23:23

May 4, 2014

Anak Kucing yang Menyeberang

Malam ini, aku melihat sesuatu yang menyedihkan.

Seekor anak kucing bertubuh kurus yang berjalan agak sempoyongan, sedang berusaha menyebrang jalan, ketika tiba-tiba ada mobil lewat yang dengan "santai"nya lewat begitu saja.

Aku hanya bisa melihat dari pinggir, berharap anak kucing itu sudah melompat menghindar, tetapi kulihat anak kucing itu terlindas ban belakang mobil. Syok, dia melompat dan menggelepar ke pinggir jalan. Aku terdiam untuk sesaat melihatnya, lalu menghampirinya yang terbaring di tanah berlumpur setelah hujan.

Badannya mengejang dan melonjak tak beraturan. Mulutnya terbuka, tersentak seperti akan mengeluarkan nyawanya. Aku tahu, dia sudah tidak mungkin diselamatkan. Meski tidak ada darah yang terlihat (atau mungkin karena gelap?) dia sedang meregang nyawa.

Aku berjongkok, mengabaikan larangan pacarku untuk menyentuhnya karena dia berlumpur, dan kami baru mau makan malam, tetapi aku ingin membelai kepalanya. Aku tahu dia sebentar lagi akan mati, karena itu aku ingin setidaknya membuatnya tidak merasa sendirian.

Jadi, aku belai kepalanya. Dagunya. Panjang hidungnya. Aku mencoba menenangkan dia yang kesakitan, dan sedikit--hanya sedikit--lega saat merasakan anak kucing itu lebih tenang meski masih mengejang kesakitan.

Lima menit aku hanya bisa membelainya, sampai akhirnya aku merasakan tubuhnya mendingin dan jantungnya berhenti berdetak.

Aku tidak menangis.

Pikiranku kosong. Setelah semua selesai, aku mencari toilet terdekat untuk mencuci tangan sampai bersih, lalu keluar dan menemui pacarku yang menunggu di depan.

Aku memutuskan pindah ke tempat lain untuk mencari makan malam. Dia setuju.

Barulah saat dia menepuk punggungku pelan, airmata meluncur di pipiku.

Maaf, kucing kecil. Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu. Tapi aku percaya, Tuhan menyayangimu karena dia mengambilmu ketimbang membiarkanmu berjuang sendirian di kehidupan yang keras ini.

Aku percaya, kamu sudah menyeberang ke tempat yang lebih baik.


ilustrasi anak kucing. Sumber: google

Sep 23, 2013

"Stories We Tell" dan Wejangan Mama di Pagi Hari

Sabtu lalu, sepulang kuliah, saya mampir ke rumah pacar. Memang belakangan ini, Sabtu sore biasa kami habiskan menonton film dari layar 14" laptopnya, sambil duduk di sofa ruang keluarganya. Kali ini, saya menunjuk film berjudul "Stories we Tell" untuk kami tonton bersama.


Film ini cukup berbeda dari film drama kebanyakan. Diangkat dari kisah nyata sang sutradara, Sarah Polley, film ini disajikan dengan gaya dokumenter dengan mewawancarai langsung orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Anyway. Kali ini saya bukan bermaksud mengulas film tersebut. Jika ada yang tertarik, ulasannya bisa dibaca di sini. Highly recommended bagi kalian yang suka film introspektif dan "sepi" dengan pace yang berjalan sedikit demi sedikit dan misteri yang terkupas satu demi satu seperti kulit bawang. #apacoba :D

Dari sekian banyak hal menarik dan menohok di film ini, ada satu kutipan yang begitu menarik perhatian saya. Saya memang tidak ingat persisnya secara per kata, tapi pada intinya:

Dalam suatu hubungan, tidak ada cinta yang seimbang. Cinta salah satu dari mereka pasti lebih besar dari yang lain. Tetapi semoga saja perbedaan itu tidak jauh dan cinta keduanya akan saling naik-turun dari waktu ke waktu, sehingga entah bagaimana akan saling menyeimbangkan.

Kata-kata itu sempat membuat saya termenung. Lalu pagi ini, ketika sedang ngobrol dengan Mama sambil sarapan, Mama sempat bilang:

Cinta itu one way. Satu arah. Seperti lagu kasih ibu itu, 'hanya memberi, tak harap kembali'. Itu nggak cuma kasih ibu, tapi semua kasih ya begitu. Di saat kamu 'mengharap kembali', kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu cuma memberi dan nggak mengharapkan apa-apa, pada satu titik dia juga akan bersikap sama dengan kamu.

Hmm... jarang-jarang loh Mama membahas soal cinta. Mama yang dulu pernah bilang "Jangan pernah mencintai seseorang 100%". Sekarang, Mama mengajarkan untuk mencintai dengan tulus.

Dan perkataan mama langsung mengingatkan saya pada film Stories We Tell itu. Jika kutipan dari film itu sempat membuat saya galau, nasihat dari Mama pagi hari ini membuat saya percaya.

I'm doing the right thing.


Sep 10, 2013

Suatu renungan di tengah malam.

Manusia itu sering di-troll sama perasaannya. Pada satu waktu, kau dibuat berpikir kau sangat menginginkan sesuatu tanpa tahu kenapa. Lalu kau mulai berusaha. Terus, terus mencoba
Berharap mendapatkannya meski kau harus menghianati prinsip dan hal-hal yang selama ini kau yakini.

Dan disaat kau bisa menggenggamnya, perlahan ia berubah. Bukan hanya perasaanmu, tetapi juga 'sesuatu' di dalam genggamanmu itu.

Lalu kau akan mulai bertanya. Kenapa dulu aku sangat menginginkannya? Apa yang kuharapkan darinya? Apa yang bisa kuharapkan darinya?

Is this really what I wanted?

Kau tak bisa menemukan jawaban. Yang kau tahu, kau enggan melepaskan genggamanmu--takut kehilangan hal penting yang sesungguhnya sudah berubah.

Tapi kau masih merindukannya.




Jakarta, 10 September 2013
Dalam kamar yang dibiarkan berantakan.


Jul 26, 2013

Langkah

Dua orang yang berjalan bersama,
Tak selalu berada di 'tempat yang sama'.

Yang satu berjalan dengan alasan,
Dengan tujuan dan harapan yang jelas.

Yang lain berjalan tanpa tahu akan kemana,
Terdorong keinginan untuk bersama,
Setidaknya untuk sekarang saja.

Ketika yang satu menyatakan kemana tujuan mereka,
Yang lain terdiam, bimbang karena belum terbayang.

Tetapi tak mengapa.
Mereka tetap berjalan bersama.
Di tengah keraguan,
Kebimbangan,
Perbedaan.

Karena satu alasan;
Ingin terus bersama.
Itu saja.



Jakarta, 26 Juli 2013


Source: from here

Feb 4, 2013

Nothing Ever Comes Easy

This is a fact I've known for a long time, but only recently was I reminded of how if felt. Feel.

Sometimes things just seem difficult and you wonder if you should just give up.

Sometimes you wonder if your efforts are going to be worth it.

Sometimes you think, 'Nothing ever comes easy. If it's coming at all'.

Right now, maybe I'm having those times. Maybe this is a phase that will pass. So I try to keep going.

I hope things will get better.