Showing posts with label novel romance. Show all posts
Showing posts with label novel romance. Show all posts

Feb 1, 2015

Blue Romance, coffee shop dengan beragam kisah

Setiap kisah punya kopinya sendiri. 

Begitulah tagline yang terdapat pada bagian bawah kaver depan buku kumpulan cerita berjudul Blue Romance. Ya, buku ini adalah tentang sebuah kedai kopi 24 jam di kota Jakarta yang menjadi saksi bisu beragam kisah pahit-manis para pelanggannya.



Informasi Buku

Judul: Blue Romance
Penulis: Sheva
Penerbit: PlotPoint (2012)
Tebal: 224 hal
Genre: Romance
ISBN: 9786029481
Blurb:
Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?
 


Kesan Pertama

Saya tahu tentang buku kumpulan cerpen Blue Romance ini ketika sedang berselancar di situs beli buku. Dari situ saya tahu bahwa buku ini adalah kumpulan cerita pendek yang memakai satu latar tempat yang sama, yaitu sebuah coffee shop bernama Blue Romance. Saya memang bukan penikmat kopi, tapi saya suka suasana coffee shop. Dan saya suka kumpulan kisah dengan latar yang sama. Apalagi kavernya yang bernuansa vintage juga menarik mata saya, jadi langsung saya pesan saja buku ini.

Begitu sampai, saya tidak kecewa. Buku ini dikemas dengan bagus, baik secara penulisan dan secara gimmick. Saya suka dengan pembatas buku berbentuk sendok antik itu. Di bagian kepala sendok, ada tulisan:

"Adventure in life is good; consotency in coffee even better." 
--Justina Chen Headley, North of beautiful--

Tema

Secara umum, tema dari buku omnibook series ini adalah “setiap kisah punya kopinya sendiri”. Setiap cerita selalu diawali dengan ilustrasi satu jenis kopi dan penjelasannya. Misalnya saja, cerita pertama “Rainy Days” diwakili oleh Affogato, yaitu espresso yang dituangkan di atas gelato.



Untuk kisah-kisahnya sendiri cukup beragam. Ada kisah tentang pertemuan di hari berhujan yang berakhir manis, ada tentang seorang anak yang merindukan ayahnya, mengenai seseorang yang mmutuskan untuk meninggalkan mimpinya, dan lain sebagainya. Tidak semua kisah di blue romance memiliki happy ending, namun persamaan dari setiap kisah adalah penuturan yang manis-pahit. Seperti kopi. 

Penulisan, Alur dan Penokohan

Saya menikmati cara Sheva bertutur yang mengalir. Kebanyakan cerita dalam Blue Romance ditulis dari sudut pandang orang pertama atau Aku. Namun ada juga yang ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Agak terasa kurang konsisten, mungkin, tapi tak terlalu jadi masalah buat saya.

Untuk alurnya sendiri, kebanyakan cerpen-cerpen ini memiliki alur linear, namun terkadang penulisan dari sudut pandang Aku membawa pembaca untuk mengetahui masa lalu masing-masing tokoh melalui pikirannya, misalnya ketika dia teringat masa lalunya.

Secara penokohan, untuk setiap ceritanya sudah cukup tergali. Setidaknya, saya bisa merasa bahwa para mereka adalah orang-orang yang ada di sekitar saya. Ada satu tokoh yang menarik perhatian saya dalam cerita “The Coffee and Cream Book Club”. Tokoh Jeff, yang sebetulnya bukan tokoh utama. Lelaki berusia 60an namun berjiwa muda dan suka berkumpul dengan ‘anak muda’ yang tergabung dalam klub buku yang biasa bertemu di Blue Romance. Jeff memberikan konflik bagi Bening, si tokoh utama yang merasa terusik dengan kehadirannya, namun ia juga lah yang menyadarkan Bening tentang apa yang selama ini dia takutkan. Bahwa dia berusaha menutupi kenyataan yang pahit seperti ketika ia menambahkan banyak creamer dan gula ke dalam kopinya. Menurut saya, Jeff menjadi sentuhan yang menarik di buku ini yang kebanyakan tokohnya berusia muda.

Sejauh ini, cerita favorit saya adalah The Coffee and Cream Book Club dan cerita pertama, Rainy Days karena atmosfirnya yang sendu tapi manis. Selain itu, cerita terakhir, A Tale About One Day mengenai pertemuan Kai, seorang pria berusia 30an berdarah Perancis dengan gadis kecil bernama Chantal yang ternyata juga memiliki darah Perancis, membuat saya menebak-nebak dan tersenyum di akhir karena tebakan saya benar, meski Sheva tidak secara gamblang menyatakannya dalam cerita. Namun, petunjuk yang bertebaran di sepanajng cerita cukup jelas, diakhiri dengan ending yang terbuka. Tapi saya tak bisa membayangkan ending lain yang bisa menutup kisah ini dengan baik.

Keseluruhan

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati kisah-kisah yang disajikan dalam Blue Romance. Mereka sederhana, tapi digali cukup dalam dan memiliki dimensi cerita sehingga tidak terasa datar. Blue Romance adalah buku yang bisa dinikmati pelan-pelan di antara kesibukan lain. Atau dalam sekali duduk jika kau sedang senggang.

Seperti kopi yang menemanimu di saat sibuk maupun saat beristirahat.




I’ll rate it:




Jan 13, 2015

Soufflé Cokelat dan Macaron Tujuh Warna (book review)

"Kita bisa melupakan kenangan, tapi kita tidak bisa menghapus masa lalu." --Haruki Murakami


Kutipan itu terpampang di lembar pertama buku Walking After You milik saya, disertai tanda tangan dari si penulis, mbak Windry Ramadhina.

Walking After You merupakan kisah mengenai seseorang yang dihantui oleh masa lalunya, hingga dia nekat membuang impiannya demi mencoba menebus kesalahannya di masa lalu. Kisah pahit-manis bertabur kue dan tar Perancis serta pasta Italia ini, meski cukup tebal, tapi sukses membuat saya enggan meletakkan bukunya hingga saya mencapai halaman terakhir.




Informasi Buku

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media (2014)
Tebal: 328 hal
Genre: Romance
ISBN: 979780772X
Blurb:
Masa lalu akan tetap ada. Kau tidak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali kepadanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang tak bisa ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkan kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka.

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu

Kesan Pertama

Saya pertama kali ahu tentang buku ini dari twitter Windry yang mempublikasikan gambar kavernya. Tekstur meja kayu. Secangkir kopi. Lalu, Macaron. Warna-warna pastel yang tercetak di buku ini langsung membuat saya jatuh cinta. Saya pikir, pasti ceritanya akan sehangat kavernya.

Tidak, saya tak hanya menilai buku ini dari kaver, tapi saya memang sudah membaca beberapa karya Windry sebelumnya, dan selalu suka. Tulisan Windry selalu meninggalkan perasan hangat di dada. Istilahnya: WAFF (warm and fuzzy feeling).

Yah jujur aja, dari judul dan kaver saja sudah cukup bikin saya pengin baca. Apalagi saya sudah tahu kualitas tulisan Windry. Tapi, demi ulasan ini, saya akan komentar soal blurb.

Khas buku-buku romansa, blurb buku ini ditulis dengan gaya yang melankolis, tapi tidak dengan bahasa yang terlalu berlebihan. Saya paling suka dengan dua kalimat terakhir:

Mungkin, kisah An seperti kisahmu.
Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu


Plot

Plot utama dari buku ini adalah kisah perjuangan An untuk mencapai sebuah mimpi. Mimpi yang bukan miliknya, tapi impian Arlet, saudara kembarnya, yang ingin menjadi koki kue handal dan suatu hari nanti punya toko kue sendiri.

Untuk mencapainya, An yang sebenarnya menekuni masakan pasta Italia sejak kecil, meninggalkan pekerjaan lamanya di La Spezia, restoran Italia ternama di ibukota, untuk kursus membuat kue lalu bekerja sebagai asisten koki di toko kue milik sepepunya, Galuh.

Toko kue itu bernama Afternoon Tea.

Dan di Afternoon Tea ini, An bertemu dengan Julian, salah satu koki kue terbaik di Indonesia yang perfeksionis dan cenderung OCD (obsessive-compulsive disorder). Pada Julian, An melihat bayangan Arlet. Sementara pacar lamanya, Jinendra yang adalah pemilik restoran La Spezia, muncul kembali ke hadapannya, berulang kali, menawarkan cinta yang hanya membangkitkan rasa bersalahnya dari masa lalu.

Yang saya sukai adalah konfliknya yang berlapis dan saling mempengaruhi. Ada konflik An dengan masa lalunya, yang membawa dirinya ke Afternoon Tea lalu menimbulkan konflik-konflik lain. Dengan Julian, dengan Jinendra, bahkan dengan Afternoon Tea itu sendiri.

Lalu, ada Ayu. Pengunjung setia Afternoon Tea yang tak pernah menyentuh pesanannya dan membuat sang Koki sedih. Wanita pecinta warna merah yang mencerminkan masalah An sendiri--orang yang tidak bisa lepas dari masa lalunya.

Kisah ini adalah kisah tentang masa lalu, tentang ikatan sepasang saudari kembar, tentang usaha untuk berdamai dengan kenyataan dan memaafkan diri sendiri. Menerima masa lalu yang tak dapat diubah, lalu maju ke depan. 

Penulisan, Alur dan Penokohan

Sebelum Walking After You, saya pernah membaca Memori dan Montase. Saya memang belum membaca semua karya Windry yang sudah terbit, tetapi dari dua buku yang saya baca sebelumnya, saya memang menyukai cara Windry bertutur dan mendeskripsikan cerita, baik dari segi imagery, detail, maupun penggambaran adegan yang bisa membangkitkan emosi, tapi tidak berlebihan. Saya menyebutnya quiet angst. Ditambah lagi, Windry benar-benar detail dalam penggambaran tema masak-memasak, termasuk deskripsi beraneka ragam makanan, bahan-bahannya, hingga pembuatannya, menjadikan tema ini lebih dari sekedar latar saja, tapi benar-benar sebagai elemen penting yang menyatu dalam cerita.

Dialog-dialognya memang terasa seperti membaca buku terjemahan. Tidak hanya dari gaya bahasa yang formal, tapi juga jenis pembicaraan antar-tokohnya. Misalnya, interaksi antara An dengan Julian. Mulai dari gestur, argumen mereka, hingga keseluruhan adegan membuat saya merasa seperti sedang menonton drama Asia atau membaca manga. Bahkan, terkadang otak saya menampilkan gabungan antara sosok manusia dan panel-panel manga ketika membacanya. (Ah, tapi mungkin itu masalah otak saya saja sih :p)

Untuk alur cerita, memang agak maju-mundur karena seringkali beberapa adegan masa lalu ditampilkan di awal bab baru. Tapi alur yang maju-mundur berhasil dituliskan dengan baik dan natural, sehingga flow-nya tetap enak untuk dinikmati. Malahan, saya suka bagaimana Windry pelan-pelan membuka kepada pembaca, sebenarnya apa yang terjadi dengan Arlet, dan bagaimana hubungan An dengan Arlet dulu.

Saya juga suka dengan perkembangan hubungan An dengan Julian yang pelan tapi pasti. Pacing-nya pas, tidak terlalu cepat dan terburu-buru. Cocok dengan karakter Julian yang pendiam, jutek, tapi pemalu. Julian yang tidak terbiasa dengan wanita. Omong-omong, saya sangat suka dengan karakter Julian. Bukan karena dia adalah cowk yang ganteng, berbakat, dan cool tapi pemalu, tapi karena menurut saya, karakter Julian tereksekusi dengan baik hingga terasa nyata. Saya bilang begini karena saya sangat mengenal lelaki yang sedikit seperti Julian. Tipe yang memiliki pace-nya sendiri dan tidak bisa diburu-buru dengan perasaannya.

Oh iya, saya juga senang bahwa Julian tidak serta-merta bersikap protektif atau luluh meski sudah mengetahui masa lalu An. Saya senang Windry tidak mengikuti pola yang sering saya lihat di cerita romansa ketika tokoh prianya telah jatuh cinta pada tokoh wanitanya. I'm really glad Julian maintains his cool head, so kudos for that!

Untuk karakter An sendiri, saya suka bahwa dia tidak sempurna. Bahwa dia egois dan keras kepala sehingga tidak memikirkan sekitarnya. Manusiawi dan memberikan tamparan bagi saya sebagai pembaca untuk lebih berintrospeksi diri. Arlet juga, meski dia digambarkan sebagai sosok yang tulus, manis dan pemalu, saya senang menemukan bahwa dia sangat bergantung pada An. Bahwa hal itu yang menjadi kekurangannya--tidak bisa menolak keinginan An, karena, hei, dia membutuhkan An dan tidak bisa jauh darinya. Bahwa ketergantungannya itulah yang mungkin membuatnya rela mendahulukan kepentingan An diatas keinginannya. #soktahu

Lalu, Ayu. Saya memang belum membaca London, jadi saya tidak mengenal Ayu. Saya hanya menyadari bahwa dia adalah kameo dari London karena saya pernah membaca blurb buku itu. (Mungkin setelah ini saya akan pergi ke toko buku dan membelinya XD).

Tapi, bagi saya yang tidak tahu ceritanya pun, Ayu menjadi sentuhan yang unik untuk cerita ini. Pelanggan tetap yang selalu memesan soufflé cokelat tanpa menyentuhnya. Seseorang yang tenggelam dalam masa lalunya sendiri. Kesannya dia adalah tokoh yang tidak punya kepentingan dalam cerita, tapi Ayu adalah sosok vital yang menjadi cermin untuk An.

Lalu, adegan ketika akhirnya perasaan An dan Julian bertemu. Itu sukses membuat saya ingin memekik tertahan karena girang dan gemas! (dasar fangirl!) Membayangkannya saja membuat saya senyum lebaaar dan bikin dada saya jadi hangat <3

Ah, post ini sudah mulai terlalu panjang. Intinya, saya suka dengan karakter-karakter yang dimunculkan dalam cerita ini. Termasuk yang tidak sempat saya sebutkan. Terlihat sekali bahwa mereka memiliki latar belakang dan purpose tersendiri. Rasanya, mereka tidak sekedar tokoh rekaan, tapi benar-benar orang-orang yang hidup dan memiliki ceritanya sendiri. :)

Keseluruhan

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Yang sedikit mengganjal mungkin hanya bahwa meskipun settingnya dekat (Di kawasan suburban, Bintaro. Hei, saya pernah tinggal di sana!) tetapi dari dialog yang menggunakan bahasa baku, materi dialog itu sendiri, serta jenis interaksi antar-karakternya, saya kurang merasakan bahwa mereka adalah orang Indonesia yang bisa saya temui di mana saja. Meski begitu, karakter-karakternya terasa nyata. Hanya mungkin, tidak tinggal di sekitar saya. (Am I even making any sense? Haha... never mind!)

Membaca buku ini seperti sedang meminum cokelat panas sambil duduk di tepi jendela saat hujan. Kalau cerita ini memiliki warna, saya membayangkannya sebagai warna-warna pastel.

Akhir kata, saya sangat menikmati membaca Walking After You, yang bercerita tentang kue tiramisu, soufflĂ© cokelat, pasta dan... macaron tujuh warna. Seperti pelangi. 


"Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja."


I'll rate it:





P.S. Thanks a lot to mbak Windry yang sudah menandatangani buku saya dan mau foto bersama saat #KPP2014 kemarin. Semoga ada kesempatan bertemu lagi :)



Jan 5, 2015

[BOOK REVIEW] Loved You Love You Then

Katanya, cinta itu memberi kekuatan. Mungkin demikian, ketika cintamu masih memiliki harapan. Tapi ketika harapan itu mati, masihkah cinta menguatkanmu, atau malah membuatmu lemah?

Kira-kira seperti itulah salah satu tema yang saya tangkap dari buku ini. Selain, tentunya, tema CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali :D

Sebenarnya sudah cukup lama saya melirik buku ini, karena kebetulan saya kenal dengan penulisnya via Facebook, kalau tidak salah sebelum novel utuh debutnya ini terbit (dan sekarang sudah tiga buku, ya? Selamat!). Tapi memang baru belakangan ini saya akhirnya berkesempatan untuk membeli. Dan karena novel ini cukup tipis, saya berhasil menyelesaikannya dalam satu kali duduk.

Saya cukup menikmati novel manis ini. Jadi sekarang saya akan mencoba mereviewnya secara keseluruhan.



Informasi Buku

Judul: Loved You Love You Then
Penulis: Daisy Ann
Penerbit: Media Pressindo (2013)
Tebal: 176 hal
Genre: Romance
ISBN: 9799113709 (ISBN13: 9789799113702)
Blurb:
“Kamu tahu aku pernah menyukaimu dulu,” kataku pelan. 
“Iya.”
“Apa karena itu kamu menyapaku? Karena tahu aku pernah memiliki perasaan untukmu?” Aku menoleh pelan. “Awan, apa aku… pelarianmu?”
Mata Awan membulat.
“Kamu masih cinta sama Elena, kan?”

***

Perasaan itu harusnya sudah hilang. Windy Firstiana Fera hanyalah seorang fotografer. Ariawan Sadewa sekarang adalah seorang dokter. Keduanya bukan lagi dua pelajar SMA seperti tujuh tahun lalu. Namun, kisah cinta itu masih ada. Tujuh tahun setelah surat cinta itu diterima, keduanya bertemu… and her feelings stayed

Kesan Pertama

Orang bilang, "don't judge a book by its cover". Tapi jujur saja ketika akan membeli buku, mata saya pasti lebih dulu menangkap buku-buku dengan desain kaver yang menarik. Setelah itu judul, lalu blurb. Nah kaver dari buku ini sendiri didesain dengan sangat manis dan catchy, terutama di mata perempuan yang merupakan sasaran pembaca dari novel ini. Kesan yang saya dapat setelah melihat desainnya adalah "rame" dan "remaja banget", sementara setelah membaca ceritanya, sebetulnya tokoh-tokoh dalam cerita ini sendiri lebih ke dewasa muda, ya.

Dari blurb-nya sendiri cukup menarik rasa penasaran saya yang memang dasarnya hopeless romantic at heart. Apalagi temanya adalah "mencintai seseorang yang tahu kau mencintainya tapi belum/tidak membalasnya". Banyak sekali yang bisa dieksplor dari situ, bukan? Tema-tema seperti ini biasanya akan disertai dialog-dialog awkward antar karakternya, dan saya selalu suka yang seperti itu. :p

Plot

Cerita ini memiliki konflik yang cukup ringan dan kental nuansa romance-nya. Dalam artian, konflik hanya berputar di segi romansa tanpa ada konflik sampingan yang berarti. Cerita dimulai ketika Fera menerima pesan di Facebook-nya dari pujaan hatinya semasa SMA, Awan. Lelaki yang pernah dikiriminya surat cinta tujuh tahun yang lalu, namun tak pernah mendapat kabar setelahnya.

Dari saling berkirim pesan, mereka akhirnya bertemu ketika Fera pergi ke Malang, kota tempatnya menjalani kehidupan SMA yang juga adalah kota tempat Awan tinggal. Sebagian besar cerita di buku ini mulai bergerak setelah Fera pergi ke Malang dan tinggal sementara di sana, dimana untuk kedua kalinya, Awan membuatnya jatuh cinta. Lagi. Padahal, setahu Fera, lelaki itu sudah memiliki pacar.

Di Surabaya sendiri, tempat Fera sekarang tinggal, ada Reza yang menunggunya. Lelaki yang pernah menyatakan cinta dan masih menunggu jawaban Fera.

Iya, ini cerita mengenai cinta-segi-sekian. Juga tentang perjuangan mendapatkan cinta VS menjadi pelarian orang yang dicintai.

Penulisan, Alur dan Penokohan

Ketika membaca sebuah buku, saya termasuk yang agak pemilih, terutama dari segi gaya penceritaan. Tentu saja hal ini sangat subjektif karena kalau sudah menyangkut gaya, itu cocok-cocokan saja. Kebetulan gaya penulisan Daisy Ann di buku ini bagi saya sudah mengalir dengan baik, dari narasi maupun dialognya, sehingga saya tidak ragu untuk menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk.

Gaya bahasa yang digunakan ringan, sesuai dengan setting modern dan tokoh-tokohnya. Penggunaan sudut pandang orang pertama dari tokoh Windy Firstiana Fera juga berhasil mendeskripsikan emosi yang dirasakannya dengan baik. Baik perasaannya maupun pemikirannya juga relatable bagi saya. Saya bisa mengerti dan bersimpati kepada tokoh Fera/Rara/Windy ini :)

Untuk alur cerita sendiri linear saja, kalaupun ada penggambaran masa lalu, biasanya terintegrasi dengan narasi ketika tokoh utama sedang memikirkan sesuatu. Tidak ada bagian yang benar-benar flashback ke masa lalu. Which is fine, karena dari segi penceritaan dan konflik sendiri bisa dilihat bahwa novel ini dimaksudkan sebagai bacaan ringan yang manis dan menghibur.

Dari segi penokohannya, yang paling tereksplor adalah tokoh Fera sebagai pemeran utama, serta tokoh Awan. Yang lain masih berkesan numpang lewat saja, karena memang sebagian besar buku ini berpusat pada kedua orang ini. Fera diceritakan sebagai cewek yang tidak terlalu feminin, kuat tapi cengeng, dan cukup berani. Sementara Awan sendiri menurut saya digambarkan terlalu sempurna. Tampan, lembut, kaya, dengan rumah yang elegan dan hei, dia dokter! Calon mantu idaman, hahaha... Kekurangannya menurut saya cuma sikapnya yang terkesan kurang tegas ketika secara tidak langsung ia menyetujui Fera/Windy untuk menjadi 'pelarian'nya.

Tokoh lainnya memang hanya pemeran pendukung saja, jadi karakter mereka baru terlihat sebatas permukaan. Meski begitu, setidaknya masih ada faktor atau ciri pembeda antara tokoh pendukung satu dengan lainnya, sehingga tidak terlalu terkesan datar atau sama semua. Saya sendiri malah sebetulnya jadi tertarik dengan sosok Brian, sahabat Awan yang juga teman SMA mereka. Brian memegang peran yang lumayan penting di paruh akhir cerita.

Kalaupun ada yang sedikit menggelitik saya, mungkin kesan bahwa penulis terlihat ingin memasukkan interest pribadinya ke dalam cerita ini. Sebetulnya hal itu sah-sah saja, apalagi novel ini adalah karya debut (yang berupa novel utuh, karena kalau saya tidak salah, sebelumnya dia pernah menerbitkan kumpulan cerita horror?), saya bisa mengerti keinginan untuk menunjukkan apa yang menjadi minat penulis ke dalam bukunya. Tidak ada yang salah, hanya saja menurut saya cerita masih bisa berjalan meski tanpa menyebutkan hobi animanga dan cosplay.

Keseluruhan

Secara umum, saya menikmati cerita yang disajikan Daisy Ann dalam novel ini. Ringan, tapi bisa bikin gemas juga. Endingnya menurut saya manis, cuma tiket ke Paris itu berasa sangat too good to be true, deh. Novel ini cocok untuk penggemar kisah romantis yang ringan dan manis.

I'll rate it: