Showing posts with label movies. Show all posts
Showing posts with label movies. Show all posts

Aug 16, 2014

[Review - Animation] Wolf Children: Ame and Yuki




Mungkin saya terbilang terlambat baru menonton film animasi ini sekarang. Tapi, saya tetap akan menuliskan cuap-cuap saya mengenai film ini, karena jujur saja, sudah lama saya tidak menonton film animasi yang bikin saya mewek! Hahaha...

Jadi, sebenarnya tentang apa, sih, Wolf Children ini?

Premis:
Hana adalah seorang mahasiswi berusia 19 tahun yang mengalami kisah cinta layaknya sebuah dongeng dengan seorang "wolf man". Sepanjang 13 tahun kehidupannya yang diceritakan dalam film ini, Hana melahirkan dua orang anak. Sang kakak bernama Yuki, anak perempuan yang lahir ketika salju sedang turun di luar. Adik lelakinya lahir pada musim semi tahun berikutnya, ketika hujan sedang mengguyutr. Dia diberi nama Ame, yang berarti hujan. Awalnya, keluarga kecil ini hidup di tengah kota sambil menyembunyikan keturunan serigalanya. Tetapi, sesuatu yang kemudian terjadi, memaksa mereka untuk pindah ke daerah pedesaan yang dikelilingi oleh alam, jauh dari kehidupan kota.

Trailer:
 

Review:
Di awal film, cerita berjalan dengan cukup lambat. Saya sempat merasa harus bersabar mengikuti jalannya cerita. Meski begitu, animasi yang indah dan musik latar yang lembut cukup lah untuk memanjakan saya dan membuat saya mau bersabar menyaksikan awal pertemuan Hana dengan Wolf Man dan bagaimana mereka perlahan-lahan mulai dekat.

Cerita baru terasa 'berjalan' ketika akhirnya, sang Wolf Man menguak rahasianya. Dari situ, kita bisa melihat dengan jelas keteguhan hati Hana ketika ia sudah menjatuhkan pilihannya. Meski tahu akan sulit, Hana memutuskan tetap bersama Wolf Man.

Mereka kemudian memiliki dua orang anak--yang seperti Ayahnya, berwujud manusia tapi bisa berubah menjadi serigala. Di sinilah cerita mulai menarik. Bagaimana seorang ibu manusia mengurus kedua anaknya yang setengah serigala? Ketika sakit, kemana mereka harus dibawa; ke dokter anak atau dokter hewan? Ketika mereka membuat kegaduhan seperti anak-anak serigala pada umumnya di apartemen yang tidak mengijinkan hewan peliharaan, bagaimana Hana harus menghadapinya? Ketika dinas sosial mendapati bahwa anak-anak Hana tidak memiliki rekam medis maupun vaksinasi dan memaksa mengecek mereka, Hana memutuskan, mungkin mereka tidak bisa lagi tinggal di kota.

"Jika kalian bisa memilih salah satu, apakah kalian ingin hidup sebagai manusia, ataukah sebagai serigala? Aku ingin kalian memiliki pilihan itu."

Hana memutuskan membawa kedua anaknya ke daerah pedesaan yang dikelilingi hutan dan gunung. Jauh dari peradaban padat, membuat Yuki dan Ame leluasa bermain dan tumbuh sebagai anak-anak manusia setengah serigala. Terkadang mereka berkejaran sebagai bocah-bocah, di lain waktu mereka berlarian dalam wujud serigala.

Dari sini, cerita mulai fokus pada bagaimana Hana membesarkan kedua anak-anak istimewa ini, dan memperlihatkan bagaimana mereka mulai tumbuh dan bersosialisasi dengan manusia dan hewan secara beriringan. Dan bagaimana akhirnya, kedua anak ini menentukan jalan hidup mereka di usia yang masih sangat belia...

Kesan-kesan:
Wolf Children adalah sebuah kisah yang membuat dada saya terasa hangat dan sesak oleh emosi. Bahkan di ketika film telah berakhir, mata saya masih panas oleh airmata. Saya tidak bilang film ini tragis atau sepenuhnya sedih. Sederhana saja: kisahnya sangat menyentuh.

Sekilas, mungkin kisah ini terlihat ditujukan untuk anak-anak. Akan tetapi, banyak sekali pesan yang cukup berat digambarkan dalam cerita ini. Perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak-anak yang 'istimewa', misalnya. Kehilangan orang yang disayangi dan bagaimana menghadapinya. Hingga membuat keputusan besar dalam hidup. Semua itu dikemas dengan apik dalam film animasi berdurasi sekitar 1 jam 57 menit ini.

Tanpa terasa menggurui, film ini mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan sebagai sebuah keluarga, juga perjuangan seorang ibu yang begitu luar biasa dalam membesarkan anaknya untuk membiarkan mereka menentukan sendiri pilihan hidupnya, meski mungkin pilihan itu akan memisahkan mereka.

Akhir Kata:
Simply beautiful! Jenis cerita yang membekas dalam hati meski kita sudah selesai menontonnya, meninggalkan rasa hangat di dada. Definitely recommended!




May 28, 2014

"After School Horror"

Mungkin ada yang sudah baca novelnya atau nonton filmnya?

Ya, AFTER SCHOOL HORROR sebetulnya adalah novel horror berisikan kumpulan cerita hantu di sekitar lingkungan sekolah, kampus dan kost-an yang ditulis oleh Nana R. Praptini a.k.a Mamaku tersayang :D

Begini penampakan bukunya:

Hujan turun deras dan motorku sulit untuk di-starter. Aku bimbang, ingin bolos tapi rasanya harus tetap les. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Dalam perjalanan, di tikungan yang gelap, sebuah mobil muncul dengan kecepatan tinggi. Aku terlambat menyadari kedatangannya. Kubanting setang motor ke kiri untuk menghindari tabrakan. Tapi percuma…. Aku terjatuh dan kepalaku terbentur pembatas jalan dengan sangat keras. Darah segar mengalir dari kepalaku, tubuhku terasa lumpuh seketika. Sakit sekali rasanya. Sedikit demi sedikit rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku….Prita tidak bisa melanjutkan membaca surat yang ditulis Lydia, muridnya. Bulu kuduknya bergidik. Bagaimana mungkin Lydia bisa hadir di kelas dan menulis surat itu, padahal dia sendiri sudah menghembuskan napas terakhir di perjalanan?

Kisah horor dan seram banyak terjadi di sekitar kita, tidak terkecuali ketika kita mencari ilmu—di bangunan kampus tua, sudut-sudut kelas sepi, atau toilet gelap sekolah yang selalu kamu hindari. After School Horror berisi delapan cerita nyata yang terjadi di lingkungan kampus dan sekolah. Membuktikan bahwa mereka juga ada di sekitar kita. Bersiaplah untuk jam pelajaran tambahanmu…, yang penuh teror….

Somehow, buku ini menarik MD Entertainment untuk membuat versi adaptasi layar lebar-nya. Film After School Horror sendiri sudah mulai tayang sejak 22 Mei 2014 lalu.

Di sekolah, beredar urban legend tentang bilik toilet yang sudah lama dikunci. ANDI (Chris Laurent), RINO (Maxime), dan VINA (Pamela Bowie) menyuruh juniornya, SINTA (Indah Permatasari) untuk membongkar pintu itu sebagai bagian dari rangkaian Jurit Malam calon pengurus OSIS.
Sejak saat itu, gangguan demi gangguan supranatural mereka alami. Tidak hanya mereka, tapi juga menyebar ke kakak Sinta, ARUM (Marissa Nasution). Lama kelamaan, mereka tidak tahan, sehingga melawan balik. 
Dari penjaga sekolah, mereka mendapat berita bahwa itu adalah hantu ASIH yang penasaran. Asih adalah seorang siswi yang jatuh cinta kepada guru mereka, PAK NORMAN . Dibantu oleh sahabat Asih dari masa lalu, FRANS, mereka harus mengembalikan Asih yang terlepas ke tempatnya. 



Dari sinopsisnya saja sudah kelihatan bahwa film ini akan sangat berbeda dari bukunya, ya? Memang, MD Entertainment hanya mengambil inspirasinya saja dari buku karya Mamaku ini, sedangkan naskah film-nya ditulis ulang oleh mereka. Hanya ada beberapa 'esensi' yang diambil dari bukunya. Kira-kira, kalian yang sudah baca bisa menebak bagian mana yang diambil dari bukunya? :)

Trailer:

Secara keseluruhan, menurut pendapat pribadi saya, buku dan film-nya tidak bisa saling dibandingkan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, juga cerita yang berjalan sendiri-sendiri. Jadi, daripada pusing-pusing membandingkan ceritanya satu-sama lain, lebih baik nikmati saja buku dan film-nya secara terpisah yaa :D
Saya sendiri juga berkesempatan untuk menonton film ini ketika menemani Mama hadir di Gala Premiernya di Planet Hollywood. Dari segi ide cerita, menurut saya film ini cukup 'dekat' dengan dunia remaja, ya. Hanya saja memang sepertinya dari depan sampai belakang, film ini terlalu konsen menampilkan adegan seram, sehingga kurang ruang untuk menggali dan mendalami baik cerita maupun karakter-karakternya.
Tapi dalam tulisan kali ini, saya tidak akan menuliskan pendapat saya mengenai film ini. Takutnya spoiler buat yang belum nonton :D Mungkin kapan-kapan ya, akan saya beberkan pendapat saya dan Mama untuk film ini.
Overall, saya dan Mama sangat senang dengan adanya versi adaptasi dari buku Mama ini.

Buat yang ingin buku AFTER SCHOOL HORROR-nya ditandatangani oleh penulisnya, Nana R. Praptini, juga yang ingin ngobrol atau tanya-jawab, bisa datang ke JAKARTA BOOK FAIR di hari KAMIS, 29 MEI 2014 JAM 16:00 dan bertemu langsung untuk book signing. Keterangan selengkapnya bisa kontak ke mbak Elly selaku editor buku ini di twitter-nya @RyAzzura. Thanks!


Sep 23, 2013

"Stories We Tell" dan Wejangan Mama di Pagi Hari

Sabtu lalu, sepulang kuliah, saya mampir ke rumah pacar. Memang belakangan ini, Sabtu sore biasa kami habiskan menonton film dari layar 14" laptopnya, sambil duduk di sofa ruang keluarganya. Kali ini, saya menunjuk film berjudul "Stories we Tell" untuk kami tonton bersama.


Film ini cukup berbeda dari film drama kebanyakan. Diangkat dari kisah nyata sang sutradara, Sarah Polley, film ini disajikan dengan gaya dokumenter dengan mewawancarai langsung orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Anyway. Kali ini saya bukan bermaksud mengulas film tersebut. Jika ada yang tertarik, ulasannya bisa dibaca di sini. Highly recommended bagi kalian yang suka film introspektif dan "sepi" dengan pace yang berjalan sedikit demi sedikit dan misteri yang terkupas satu demi satu seperti kulit bawang. #apacoba :D

Dari sekian banyak hal menarik dan menohok di film ini, ada satu kutipan yang begitu menarik perhatian saya. Saya memang tidak ingat persisnya secara per kata, tapi pada intinya:

Dalam suatu hubungan, tidak ada cinta yang seimbang. Cinta salah satu dari mereka pasti lebih besar dari yang lain. Tetapi semoga saja perbedaan itu tidak jauh dan cinta keduanya akan saling naik-turun dari waktu ke waktu, sehingga entah bagaimana akan saling menyeimbangkan.

Kata-kata itu sempat membuat saya termenung. Lalu pagi ini, ketika sedang ngobrol dengan Mama sambil sarapan, Mama sempat bilang:

Cinta itu one way. Satu arah. Seperti lagu kasih ibu itu, 'hanya memberi, tak harap kembali'. Itu nggak cuma kasih ibu, tapi semua kasih ya begitu. Di saat kamu 'mengharap kembali', kamu akan kecewa. Tapi kalau kamu cuma memberi dan nggak mengharapkan apa-apa, pada satu titik dia juga akan bersikap sama dengan kamu.

Hmm... jarang-jarang loh Mama membahas soal cinta. Mama yang dulu pernah bilang "Jangan pernah mencintai seseorang 100%". Sekarang, Mama mengajarkan untuk mencintai dengan tulus.

Dan perkataan mama langsung mengingatkan saya pada film Stories We Tell itu. Jika kutipan dari film itu sempat membuat saya galau, nasihat dari Mama pagi hari ini membuat saya percaya.

I'm doing the right thing.